Bimbingan Belajar Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Proses Belajar Mengajar

NAMA : Erika Suryani
NIM : 181330000368
KELAS : 3 PGSD A3
DOSEN : Bu Naili Rofiqoh S.Psi., M.Si

Bimbingan Belajar sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Proses Belajar
Setiap siswa memiliki berbagai perbedaan, baik dalam hal kemampuan intelektual bakat, minat, kemauan, perhatian, partisipasi, latar belakang keluarga, sikap, dan kebiasaan belajar yang terkadang sangat mencolok antara siswa yang satu dengan yang lainnya.
Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah pada umumnya lebih ditujukan pada siswa yang berkemampuan rata-rata sehingga yang berkemapuan kurang menjadi terabaikan. Siswa yang termasuk kategori di luar rata-rata ( siswa yang pintar atau yang bodoh) tidak bisa memproleh kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai kapasitasnya. Jadi, kesulitan belajar dapat terjadi dan dialami oleh siswa yang bodoh, yang berkemampuan rata-rata, maupun siswa yang berkemampuan tinggi.
Dari kondisi diatas maka diperlukan adanya layanan bimbingan belajar untuk meningkatkan proses belajar mengajar.
Bimbingan Belajar .
Menurut Frank Miler (1961), bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai pemahaman diri dan arah diri terutama untuk membuat penyesuaian terhadap sekolah, keluarga, dan masyarakat umum. Bimbingan belajar adalah proses membantu kegiatan belajar kepada siswa baik secara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan (prestasi belajar) secara optimal.
Makna layanan bimbingan belajar (layanan pembelajaran) mengisyaratkan pada tujuan intinya, yaitu memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya pada siswa untuk mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, ketrampilan dan materi belajar yang sesuai dengan tingkat kecepatan, kesulitan belajar, potensi, dan perkembangan diri siswa.
Dengan demikian, fungsi utama dari layanan bimibinga belajar (layanan pembelajaran) adalah fungsi pemeliharaan dan pengembangan bagi siswa di sekolah.
Adapun materi yang dapat diakomodir melalui kegiatan layanan bimbingan belajar ialah:

  1. Pengenalan siswa yang mengalami masalah (kesulitan) belajar baik karena kondisi kemampuan, motivasi, dan sikap maupun kebiasaan belajar siswa.
  2. Pengembangan motivasi, sikap, maupun kebiasaan belajar siswa.
  3. Pengembangan keteranpilan belajar, membaca, mencatat, bertanya, menjawab, dan menulis.
  4. Pengajaran perbaikan.
  5. program pengayaan.
    Belajar Mengajar
    Makna belajar menurut para ahli adalah sebagai berikut:
  6. Robert E. Silveman.
    Learning is a process in wich past experience or practice result in relatively permanent change in an individuals repertory of responses.
    maksudnya ialah Belajar adalah suatu proses di mana pengalaman masa lalu atau praktik menghasilkan perubahan yang relatif permanen terhadap seseorang.
  7. Cronback dalam kutipan Abu Ahmadi.
    Learning is shown by change in behaviors as a result of experience.
    maksudnya ialah belajar ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
  8. Howard L. Kingsley.
    Learning is a process bu wich behavior (In broader sense) is original led or changed through practice or training. Maksudnya ialah belajar adalah proses di mana perilaku (dalam arti yang lebih luas) yang asli dipimpin atau diubah melalui latihan atau pelatihan.
    Dari pendapat diatas dapat kita simpulkani bahwa belajar adalah suatu proses yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan sikap dan perilaku yang menlibatkan banyak aspek, baik karena pengalaman maupun latihan atau pelatihan.
    Tujuan Belajar
    Dari pendapat diatas dapat kita simpulkam bahwa tujuan belajar ialah:
  9. Untuk mendapatkan pengetahuan.
  10. Merupakan upaya untuk menanamkan konsep dan keterampilan.
  11. Merupakan upaya untuk membentuk sikap dan perilaku.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa.
    Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dalam proses belajar ialah sebagai berikut:
  12. Intelegansi.
    Kemampuan dan kecakapan ini mencakup kecakapan siswa menghadapi dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada secara cepat dan efektif.
  13. Perhatian
    Perhatian terhadap suatu materi yang sedang dihadapi termasuk potensi yang sangat mendukung mutu proses belajar siswa.
  14. Minat.
    Minat merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan berbagai aktivitas belajar yang diminati.
  15. Bakat.
    Bakat adalah kemampuan aktual dalam belajar yang menurut Hilgard disebut “The capacity to learn”.
  16. Motivasi.
    Motivasi belajar pada dasarnya merupakan motor penggerak utama bagi siswa untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.
  17. Kematangan.
    Menurut James Drever kematangan adalah “Prepareadiness to respond” yaitu suatu fase pertumbuhan dan perkembangan, di mana anak telah memiliki readiness, baik baik fisik maupun psikisnya.
  18. Kesiapan.
    Kecakapan-kecakapan dalam belajar menentukan kemajuan dalam belajar yang “react” (kesiapan memberi respon) terhadap suatu materi yang disajikan.
  19. Kelelahan.
    Kelelahan fisik maupun mental sangatlah berdampak negatif bagi proses belajar siswa.
    Mengajar.
    Mengajar adalah aktivitas menyampaikan pengetahuan dan kecakapan kepada siswa dalam situasi lingkungan yang terorganisir. Dari pendapat lain, mengajar juga dapat diartikan sebagai The guidence of learning activities, teaching is for purpose of aiding the pupil to learn artinya yaitu dalam kegiatan belajar, mengajar adalah untuk tujuan membantu siswa.
    Dari kedua uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa proses belajar-mengajar dituntut adanya interaksi edukasi antara guru dengan siswa yang memadai, baik melalui kegiatan mengajar ataupun bimbingan belajar. Oleh karena bakat dan interaksi itulah, maka terjadi perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan.
    Prinsip Prinsip Belajar Mengajar
    Dalam proses pembelajaran guru harus mempunyai prinsip sebagai acuan atau pedoman dalam proses pembelajaran, adapun prinsip prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
  20. Belajar senantiasa bertujuan yang selaras dengan perkembangan perilaku siswa.
  21. Belajar didasarkan atas kebutuhan motivasi siswa.
  22. Belajar dilaksanakan dengan latihan daya daya untuk membentuk hubungan asosiasi melalui penguatan.
  23. Belajar membutuhkan bimbingan, baik secara langsung oleh guru, maupun secara tidak langsung melalui pengalaman dari siswa.
  24. Belajar bersifat keseluruhan dan menitikberatkan pemahaman, berpikir kritis, dan reorganisasi pengalaman.
  25. Belajar dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal siswa.
  26. Belajar sering dihadapkan pada masalah atau kesulitan yang perlu dipecahkan.
  27. Hasil belajar dapat ditransfer ke dalam situasi lain.
    Semua prinsip prinsip diatas dapat digunakan oleh guru sebagai acuan dalam proses pembelajaran di sekolah kepada siswa. Proses pembelajaran di sekolah tidaklah mudah untuk diaplikasikan, guru sering dihadapkan dengan bermacam-macam masalah termasuk di dalamnya dalam menentukan teknik, metode dan media yang sesuai dengan karakter siswa. Persoalannya adalah di sekolah berbagai macam pula karakterisktik siswa. Sejumlah siswa mungkin dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, tetapi di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.
    Sebagai seorang guru yang sehari-hari mengajar di sekolah, tentunya tidak jarang harus menangani anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Anak-anak sepertinya sulit sekali menerima materi pelajaran, baik pelajaran membaca, menulis, serta berhitung. Hal ini terkadang membuat guru menjadi frustasi memikirkan bagaimana menghadapi anak-anak seperti ini. Demikian juga para orang tua yang memiliki anak-anak yang memiliki kesulitan dalam belajar. Harapan agar anak mereka menjadi anak yang pandai, mendapatkan nilai yang baik di sekolah menambah kesedihan mereka ketika melihat kenyataan bahwa anak-anak mereka kesulitan dalam belajar.
    Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya
    DEFINISI KESULITAN BELAJAR
    Menurut National Institute of Health, USA kesulitan belajar adalah hambatan/gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensia dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kesulitan belajar kemungkinan disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca,
    menulis, pemahaman dan berhitung.
    Selain definisi tersebut di atas, menurut Sudrajat kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, di antaranya: (a) learning disorder; b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning disabilities.3 Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
    Learning Disorder
    Learning disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.
    Learning Disfunction
    Learning disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.
    Under Achiever
    Under achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah
    Slow Learner
    Slow learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
    Learning Disabilities
    Learning disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
    Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kesulitan yang berdampak serius pada kemampuan anak didik dalam menerima pelajarannya.
    Dengan demikian perlu kiranya untuk dapat mengetahui faktor-faktor apa yang melatarbelakangi sehingga kesulitan ini bisa terjadi. Sehingga dengan pengetahuan yang ada guru, orang tua dan masyarakat lain dapat mengambil tindakan yang efektif.
    FAKTOR-FAKTOR KESULITAN BELAJAR
    faktor-faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:
    Faktor Internal Siswa
    Faktor internal siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni:
    • Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/inteligensi siswa;
    • Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
    • Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).
    Faktor Eksternal Siswa
    Faktor eksternal siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat dibagi tiga macam.
    • Lingkungan keluarga, contohnya; ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
    • Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya; wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
    • Lingkungan sekolah, contohnya; kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
    GEJALA-GEJALA KESULITAN BELAJAR
    Siswa sering mengalami gejala-gejala yang tidak mestinya dan di luar kebiasaan. Dalam hal ini biasanya guru atau orang tua menganggap siswa tersebut mungkin malas atau bodoh dan tidak dipedulikan bahkan akan diasingkan. Keadaan ini tidak akan menyelesaikan masalah bahkan akan menambah parah masalah yang muncul. Oleh karena itu, guru perlu mendeteksi gejala-gejala yang ada untuk dapat memberikan solusi. Menurut Sudrajat kesulitan belajar dapat dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif. Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain:
    • Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
    • Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
    • Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
    • Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
    • Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
    • Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
    Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas bagi siswa yang dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Lebih lanjut dalam situs yang dikeluarkan oleh Learning Disabilities Association of America menyebutkan bahwa gejala-gejala yang sering timbul bagi anak dengan kesulitan belajar bervariasi dan tergantung pada usia anak.
    • Pada usia pra-sekolah
  • Keterlambatan berbicara jika dibandingkan dengan anak seusianya
  • Adanya kesulitan dalam pengucapan kata
  • Kemampuan penguasaan jumlah kata yang minim
  • Seringkali tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat
  • Kesulitan untuk mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
  • Mengalami kesulitan dalam menghubungkan kata-kata dalam suatu kalimat
  • Kegelisahan yang sangat ekstrim dan mudah teralih perhatiannya
  • Kesulitan berinteraksi dengan anak seusianya
  • Menunjukkan kesulitan dalam mengikuti suatu petunjuk atau rutinitas tertentu
  • Menghindari pekerjaan tertentu seperti menggunting dan menggambar
    • Pada usia sekolah
  • Daya ingatnya (relatif) kurang baik
    -Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca. Misalnya huruf d dibaca b, huruf w dibaca m dan lain sebagainya.
  • Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya
  • Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika, misalnya tidak dapat membedakan antara tanda matematika.
    -Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat.
    -Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan satu tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas.
  • Impulsif (bertindak sebelum berpikir).
  • Sulit konsentrasi atau perhatiannya mudah teralih
  • Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah atau di rumah.
  • Tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
  • Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-harinya.
  • Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah tersinggung atau acuh terhadap lingkungannya.
  • Menolak sekolah.
  • Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu.
  • Ketidakstabilan dalam menggenggam pensil/pen
  • Kesulitan dalam mempelajari pengertian tentang hari dan waktu
    • Pada Usia Remaja dan Dewasa
  • Membuat kesalahan dalam mengeja berlanjut hingga dewasa.
  • Sering menghindar dari tugas membaca dan menulis.
  • Kesulitan dalam menyimpulkan suatu bacaan.
  • Kesulitan menjawab suatu pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan.
  • Kemampuan daya ingat lemah.
  • Kesulitan dalam menyerap konsep yang abstrak.
  • Bekerja lamban.
  • Bisa kurang perhatian pada hal-hal yang rinci atau bisa juga terlalu
    fokus kepada hal-hal yang rinci.
  • Bisa salah dalam membaca informasi.11
    Demikian gejala-gejala yang ditemukan pada anak yang mengalami kesulitan belajar. Gejala-gejala yang ada mungkin sangat mendetail tapi tidak sempurna, tetapi dengan melihat gejala-gejala yang ada setelah dilakukan diagnosa maka setiap orang dapat mengambil tindakan.
    MENGATASI KESULITAN BELAJAR
    Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan “jenis penyakit” yakni jenis kesulitan belajar siswa. Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai “diagnostik” kesulitan belajar. Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru,
    antara lain yang cukup terkenal adalah proses Weener dan Senf sebagaimana yang dikutip Syah sebagai berikut:
    • Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
    • Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
    • Mewancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
    • Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
    • Memberikan tes kemampuan intelegensia (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
    Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagaimana yang dikemukakan Syah (2000: 175) sebagai berikut:
    • Menganalisa hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antarbagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
    • Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
    • Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
    • Melaksanakan program perbaikan.
    Analisis Hasil Diagnosis
    Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar tadi perlu dianalisis sedemikian rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.
    Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan
    menjadi tiga macam;
    • Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
    • Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua.
    • Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orang tua.
    Menyusun Program Perbaikan
    Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut;
    • Tujuan pengajaran remedial
    • Materi pengajaran remedial
    • Metode pengajaran remedial
    • Alokasi waktu pengajaran remedial
    • Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.
    Melaksanakan Program Perbaikan
    Kapan dan di mana program pengajaran remedial yang telah dirancang itu dapat dilaksanakan? Pada prinsipnya, program pengajaran remedial itu lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa di mana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa memusatkan perhatiannya terhadap proses perbaikan tersebut. Namun patut dipertimbangkan oleh guru pembimbing kemungkinan digunakannya ruang bimbingan dan penyuluhan yang tersedia di sekolah dalam rangka mendayagunakan ruang BP tersebut. Selanjutnya, untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternatif-alternatif kiat pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan mempelajari buku-buku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan. Selain itu, guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai alternatif lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.

KESIMPULAN
Pembahasan di atas menunjukkan bahwa pada prinsipnya setiap siswa memiliki permasalahan atau kesulitan belajar yang disebabkan perbedaan potensi yang dimiliki siswa. Kesulitan itu disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal dari masing-masing siswa asuh. Semua upaya tersebut merupakan langkah positif untuk mengentaskan kesulitan belajar yang biasa dialami siswa, sekaligus untuk mendukung lajunya kualitas proses belajar-mengajar di sekolah dalam meningkatkan prestasi seoptimal mungkin.

Daftar Pustaka
Abidin, Zaenal. 2006. Layanan Bimbingan Belajar sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Proses Belajar Mengajar. Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan: STAIN Purwokerto. Insansia Vol. No.. 1, 34-38.

Salahudin. A. Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Cet. IV; Bandung: PT Refika Aditama, 2011.

Idris, Ridwan. 2009 Mengatasi Kesulitan Belajar Dengan Pendekatan Psikologi Kognitif. Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan: Lentera Pendidikan Vol. 2 No 152-172.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai